Beranda HEADLINE 368 Orang Karyawan PT Rickry Mengadu ke Kantor LAM Kota Pekanbaru, Datuk...

368 Orang Karyawan PT Rickry Mengadu ke Kantor LAM Kota Pekanbaru, Datuk SUA : “Ini Bukan Hanya Sekedar Kasus Ketenagakerjaan. Mereka Sudah Melanggar HAM !”

430
BERBAGI
Said Usman Abdullah
SUA - Said Usman Abdullah, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAM Kota Pekanbaru

RIAU.KABARDAERAH.COM, PEKANBARU — Bertempat di ruang pertemuan Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru, Jalan Senapelan (25/09/2018). Perwakilan dari 368 orang karyawan PT Rickry disambut langsung oleh Said Usman Abdullah, selaku Ketua Majelis Kerapatan Adat beserta para pengurus lainnya.

Dalam pertemuan itu, disampaikan mengenai kondisi perusahaan yang sampai hari ini tidak kunjung beroperasi, oleh karena adanya masalah internal antara Direktur Utama dengan Direktur PT Rickry.

Materi diskusi yang dibahas lebih kepada sikap yang dilakukan pimpinan perusahaan dengan para karyawannya.

“Ya Allah Ya Rabbi. Bingung kami pak, sampai hari ini nasib kami tak tentu arah. Sekarang kami ngak bekerja lagi. Kalau memang mau dipecat, mana surat PHKnya, biar bisa kami minta pesangon, jangan menggantung seperti ini” tutur Hamdan, salah seorang karyawan PT Rickry, pada saat berada di Kantor LAM Kota Pekanbaru.

SAID USMAN ABDULLAH
Keterangan Foto Gabungan, Said Usman Abdullah (SUA). Pada Saat Memberikan Penjelasan Kepada Rombongan Karyawan PT Rickry.

Hamdan juga sampaikan, bahwa dirinya saja sudah menjadi korban atas kecelakaan kerja di perusahaan itu dan menurutnya perusahaan sama sekali tidak menepati janji untuk membantu kondisi dan masa depannya kelak.

“Iya pak, dulunya mereka (Pihak Perusahaan-red) telah berjanji untuk menjamin masa depan saya. Sekarang ini kondisi kaki saya cacat sebelah. Perusahaan hanya sekedar bantu belikan Kaki Palsu, sementara awalnya mereka komit untuk memberikan perhatian lebih bagi saya” imbuhnya.

Bukan hanya sampai disitu saja, Hamdan juga terkena dampak atas tidak diberinya gaji karyawan selama 4 bulan. Dengan kondisinya yang menggunakan kaki palsu, Hamdan terpaksa berutang sana-sani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Dedi Mulyadi, yang juga merupakan karyawan Perusahaan tersebut, bahwa dirinya saja yang bekerja dibidang IT juga bernasib sama dengan karyawan yang lainnya.

SAID USMAN ABDULLAH
Keterangan Foto Gabungan, Hamdan Selaku Karyawan PT Rickry, yang Pernah Mengalami Kecelakaan Kerja di Perusahaan tersebut.

“Iya pak, saat ini kondisi kami semuanya sama. saya dan pak Hamdan tidak tau harus bagaimana lagi. Harapan kami hanya bergantung kepada Lembaga Adat ini melalui perjuangan dari teman-teman SPSI. Saya dan pak Hamdan sekarang tinggal di Mess perusahaan, yang kemungkinan besar saluran listriknya juga akan dicabut pihak PLN, oleh karena perusahaan nunggak bayar” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Said Usman Abdullah atau yang akrab dipanggil dengan sebutan SUA, selaku Tokoh Masyarakat sekaligus Ketua MKA LAM Kota Pekanbaru, langsung merespon aduan ini dengan sikap yang lantang.

“Kedatangan Bapak-Bapak ke kantor kami ini adalah cerminan kepercayaan atas LAM Kota Pekanbaru, kalau memang kronologi itu benar adanya, maka LAM akan segera bersikap. Ini bukan sekedar masalah ketenagakerjaan saja, melainkan sudah masuk keranah Pelanggaran HAM” tegasnya.

SUA juga menegaskan, bahwa LAM akan segera mempelajari aduan dari SPSI PT Rickry. “Setelah semuanya jelas, kami akan segera memanggil pihak-pihak terkait, baik itu Disnaker, DPRD maupun pimpinan perusahaan tersebut.

SAID USMAN ABDULLAH
Keterangan Foto : Situasi Pada Saat Rapat Bersama, antara Pengurus LAM Kota Pekanbaru dengan Perwakilan Karyawan PT Rickry (25/09/2018).

Terpisah, melalui sambungan selulernya Wiliono selaku Direktur PT Rickry juga sependapat dengan tuntutan para karyawan, agar sistem dan manajemen perusahaan itu segera diperbaiki.

“Iya pak, benar. Dari awal saya sudah bicarakan permasalahan ini dengan pak Soputra, yang merupakan Direktur Utama perusahaan tersebut, namun ternyata masalah itu tak kunjung selesai. Sudah menjadi kewajiban perusahaan untuk menunaikan hak-hak yang dituntut para karyawan tersebut” ungkapnya.

Sampai berita ini diturunkan, Soputra tak kunjung mengangkat sambungan selulernya, Padahal ia selaku Direktur Utama sangat bertanggungjawab atas permasalahan itu. “Pokoknya saya pribadi ingin cepat-cepat menyelesaikan kasus ini, namun mau gimanapun Direktur Utamalah yang memiliki otoritas untuk memperbaiki situasi ini” akhirnya seraya menutup pernyataan pers tersebut.  (*)

Laporan : Yunus
riau.kabardaerah.com
loading...